Langsung ke konten utama

Ibu, Ayah ke Mana? Ini tentang Kerinduan dan Keikhlasan padanya yang Telah Tiada


Oleh: Putri Syifa Amelia

Pernahkah kamu merasa rindu yang teramat besar kepada mereka yang telah tiada? Bisakah kamu ikhlas seutuhnya?


Saya ketika berkunjung ke "rumah" ayah. Foto: Putri Syifa Amelia

Saya tumbuh besar tanpa sosok ayah. Ayah telah pergi jauh ke tempat peristirahatan terindah sejak saya masih sangat kecil. Sering saya merasa iri melihat teman-teman begitu dekat dengan ayah mereka.
"Mama, ayah ke mana?"
Itulah pertanyaan yang sering sekali saya ajukan kepada mama. Beliau hanya tersenyum tanpa menjawab.
Hingga suatu ketika saya sudah paham bahwa ayah saya telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali, karena kami sudah berbeda alam.
Kemudian saya tumbuh dan masuk sekolah dengan didikan mama. Namun, setiap hari selalu ada rasa rindu itu. Terutama ketika saya melewati masa-masa penting, seperti kelulusan, memenangkan perlombaan, ulang tahun ke-17 dan lain sebagainya. Saya selalu berharap bahwa ayah akan menemui saya setidaknya sekali saja dalam mimpi. Namun ia tak pernah datang.

Ejekan sudah makanan sehari-hari untukku. Panggilan yatim seringkali aku dengar. Namun apalah daya, benar adanya aku seorang yatim. Aku hanya bisa ikut tertawa, iya, menertawai nasibku. Biarlah, itu adalah sedikit kisah lama. Saat ini aku berada di lingkungan yang jauh lebih baik dan lebih memiliki empati.

Belajar Mengikhlaskan dan Fokus Pada Ibu yang Masih Saya Miliki


Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Hananeko_Studio/ShutterstocK
Seringkali saya merasa rindu dengan ayah, sayangnya saya tak bisa selalu mengunjungi makamnya. Foto pun saya tidak punya. Sehingga seringkali saya hanya bisa membayangkannya saja. Bahkan ketika akhirnya saya mengunjungi makam ayah, rasa rindu itu tetap tidak hilang.
Saya ingin bertemu ayah! Bukankah tega sekali dalam 18 tahun tak sekalipun datang berkunjung dalam mimpi? Tidakkah ayah saya ingin berbicara mengenai bagaimana saya tumbuh?

Saya begitu merindukan ayah. Namun perlahan akhirnya saya tersadar, tak seharusnya saya terjebak pada ia yang telah tiada hingga lupa dengan kehadiran mama yang masih hidup. Mama yang selalu ada dalam setiap tumbuh kembangku. Ini salah. Saya salah.
Kemudian saya pun tersadar. Mengapa saya selalu menanti sosok yang telah tiada dan malah seolah tak melihat mama? Itu suatu hal keji. Saya tak seharusnya mengabaikan mama. Ia telah berusaha sangat keras untuk membesarkanku, mendidikku dan menjadi pengganti sosok ayah. Begitu banyak pengorbanan yang mama lakukan.
Saya seolah lupa, bukan hanya saya yang merasa sakit, namun mama juga merasakannya, bahkan jauh lebih dari apa yang saya rasa. Bagaimana saya bisa sekejam ini?
Saya pun akhirnya sedikit demi sedikit berusaha mulai mengikhlaskan kepergian ayah. Bukan untuk dilupakan, tapi untuk kedamaian hati dan fokus pada apa yang masih saya miliki, yaitu mama.
Hingga kini rasa rindu itu ada, namun, sudah tak sesakit dulu. Saya ikhlas. Saya hanya akan berusaha untuk menyayangi mama sepenuhnya.
Ayah, rasa rindu ini tetap ada. Tapi saya akan hanya fokus kepada mama untuk sekarang. Selamat tinggal ayah. Mama, mari kita bersama melanjutkan hidup kita. Tanpa ayah.

TELAH DIPUBLIKASI DI KUMPARAN DAN KLIK WARTA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jenis-Jenis Jalan Rusak dan Penyebabnya

 Oleh: Putri Syifa Amelia Jenis-Jenis Jalan Rusak di Indonesia. (Foto: Okezone.com) JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkapkan bahwa kondisi jalanan pasti mengalami kerusakan. Meski jalanan tersebut sudah melalui proses pengerasan dan sebagainya.   Mengutip dari laman Instagram @pupr_binamarga, berikut empat jenis kerusakan jalan dan penyebabnya:   1. Kerusakan Jalan Lubang (Potholes) Kerusakan ini akan membuat jalan berlubang seperti mangkok dan membuat air tergenang. Penyebabnya karena drainase jelek yang menyebabkan pelapukan aspal. Demikian dikutip dari Instagram 2. Kerusakan Jalan Alur (Rutting) Kerusakan ini terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan dan akan membentuk alur. Penyebabnya bisa karena ketebalan lapisan permukaan yang tidak mencukupi untuk menahan beban lalu lintas. 3. Kerusakan Jalan Kegemukan (Bleeding) Kerusakan ini dapat kita ketahui dengan terlihatnya lapisan tipis aspal (tanpa agreg...

Musik dan Pengaruhnya terhadap Mood hingga Kesehatan Mental

Oleh: Putri Syifa Amelia Saudara saya yang sedang mendengarkan musik sepulang kerja. Foto: Putri Syifa Amelia Siapa yang suka mendengarkan musik? Apakah kalian termasuk pecinta musik? Saat ini hampir semua orang suka mendengarkan musik, bahkan seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya yang mengetik ini sembari mendengarkan musik. Namun, tahukah kalian, musik sangat mempengaruhi mood bahkan hingga kesehatan mental kita lho! Kenapa bisa seperti itu ya? Yuk kita bahas. Musik, Mood, dan Kesehatan Mental Ilustrasi mendengarkan musik saat hujan. Foto: goffkein.pro/Shutterstock Sebelumnya mari kita ketahui dulu apa itu musik, mood dan kesehatan mental. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Kata musik sendiri berasal dari bahasa Yunani mousikos yang melambangkan d...

Investor Saham Diminta Waspadai Tahun Politik

 Oleh: Putri Syifa Amelia Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi melemah (Ilustrasi: Okezone) JAKARTA – Investor pasar saham Indonesia diminta waspadai tahun politik. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami penurunan pada masa pemilu 2024.   Namun, Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengatakan, penurunan IHSG tidak akan terlalu dalam. Menurutnya, stabil atau tidaknya pelaksanaan pemilu akan mempengaruhi gerak indeks tahun depan.   Selain itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia juga akan sangat mempengaruhi pergerakan indeks.   “Asalkan kondisi politik itu bisa tetap stabil dan tidak banyak perubahan yang terlalu signifikan, pergerakan IHSG diharapkan walaupun terkoreksi-koreksi, itu tidak akan terlalu dalam,” kata Ike dalam webinar ‘Monthly Market Outlook’, ditulis Kamis (7/12/2023).   Ike menjelaskan bahwa momentum untuk para investor menambah portofolio investasinya adalah saat IHSG mengalami...