Oleh: Putri Syifa Amelia
![]() |
| Makam ayah. Foto: Putri Syifa Amelia |
Hari itu hujan
turun deras seolah mengerti isi hatimu. Seseorang paling berharga bagimu telah
tiada, dijemput oleh sang Maha Pemilik Kehidupan melalui utusan Malaikat-Nya.
Dirimu tak punya cukup waktu untuk meratapi nasib. Air mata terlalu berharga
untuk dijatuhkan, masih ada keringat yang harus kamu keluarkan demi tiga
anakmu, yang belum mengerti kerasnya dunia, untuk kamu jaga, rawat dan
besarkan.
Semua yang hidup pasti
akan mati, begitu pula manusia. Kematian seseorang menimbulkan rasa kehilangan
yang mendalam bagi kalian yang ditinggalkan. Bukan hanya itu, bahkan tak jarang
meninggalnya seseorang memberikan beban berat bagi kalian yang hidup. Itulah
yang dirasakan oleh Hirmawati, seorang ibu dengan 3 anak, yang dipisahkan dari
sang suami oleh maut.
Hirmawati, atau biasa
dipanggil Irma, seorang single parent,
kehilangan sang suami saat anak-anaknya masih sangat belia. Kamu memikul beban
yang sangat berat, bukan hanya secara ekonomi, namun juga mental. Engkau harus
menghidupi serta membesarkan anak-anakmu seorang diri.
"Saya bukannya
enggak capek, tapi kalau saya menyerah, anak-anak punya siapa lagi? Jadi harus
kuat, demi anak-anak," ucap Irma.
Denial dan Kenyataan
Saat suamimu meninggal,
dirimu sangat denial akan fakta tersebut. Berkali-kali berkata bahwa suamimu
belum tiada, masih hidup, masih di dunia ini. Engkau menangis dalam diam, tak
membiarkan siapapun tahu betapa hancurnya dirimu. Remuk redam.
Tak pernah terpikirkan
dalam benakmu bahkan sedetikpun, akan ditinggalkan oleh suamimu terkasih
secepat ini. Dirimu tahu kematian itu ada, pasti datangnya, namun, engkau
bertanya-tanya mengapa harus secepat ini? Untuk beberapa lama, engkau terus
menyangkal kenyataan yang ada. Fakta bahwa suamimu telah tiada.
"Apa yang harus
kulakukan?" pikirmu kala itu.
Namun tak banyak waktu
bagi engkau untuk meratapi nasib. Dirimu pada akhirnya harus menelan pil pahit
bernama kenyataan. Kamu bangkit dan segera menyusun banyak rencana untuk
keberlangsungan hidupmu dan ketiga anakmu, Fathur, Haikal, Syifa.
"Terus meratap
tiada guna. Hidup terus berjalan. Suamiku tak akan bangkit dari kubur sedangkan
kami harus tetap hidup," ungkap Irma.
Engkau pun mulai
menelan pil pahit kenyataan dan mulai membiasakan diri untuk melanjutkan hidup
tanpa suamimu. Bersama ketiga anakmu, mencari kebahagiaan baru dan meneruskan
hidup.
Hidup Terus Berjalan
Hari-hari terus
berjalan, begitu pula kehidupan. Kamu bekerja keras untuk membuat anak-anakmu
tetap bisa meraih mimpi-mimpi. Anak-anakmu bertumbuh besar dan kamu berjuang
keras untuk menyekolahkan mereka setinggi mungkin.
Banyak pekerjaan yang
kamu lakukan demi menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup dan sekolah
anak-anakmu. Bekerja dari pagi hingga malam setiap hari.Bagimu tentu saja itu
melelahkan, namun tiada satupun keluhan terucap dari bibirmu.
Semua kerja keras itu
terbayarkan dengan berhasilnya anak-anakmu untuk bersekolah dan meraih prestasi
di bidangya masing-masing. Tak di bidang akademik, namun juga non akademik.
Kamu pun juga berhasil mendidik kita menjadi anak-anak yang peka akan sekitar
dan saling peduli dengan keadaan.
Kini semua sudah
berjalan jauh lebih baik. Kamu dan kita, anak-anakmu, sudah sangat
mengikhlaskan kepergian suamimu, ayah kita. Hidup terus berjalan, rasa ikhlas
ini membuatmu lega. Bukan berarti engkau melupakan orang terkasih, melainkan
kini sudah terbiasa hidup tanpanya.
Kematian memang sangat
menakutkan, untuk kita dan orang-orang yang ditinggalkan. Namun, pada akhirnya
kamu berhasil melewati semua itu dengan sempurna. Kamu adalah seorang ibu yang
sangat hebat.

Komentar
Posting Komentar
Mari berkomentar dengan santun dan bijak