Langsung ke konten utama

Media Sosial Semakin Marak, Hate Speech Semakin Banyak Hingga Netizen Indonesia Buat Rekor

 Oleh: Putri Syifa Amelia.


Ilustrasi hate speech di media sosial. Sumber: asiandelight

Saat saya sedang melihat suatu postingan di sebuah akun, saya sangat terkejut membaca kolom komentar. Begitu banyak ketikan yang tidak sopan dan condong kepada ujaran kebencian. Mirisnya, hal ini tidak hanya saya temukan sekali dua kali, namun sangat sering. Postingan yang ada sebenarnya tidak ada masalah bahkan beberapa justru bermanfaat dan memberikan ilmu, namun sayangnya, justru penuh dengan cacian dengan dalih “mengkritik” dan “kebebasan berpendapat”. Banyak pula saya temui komentar hinaan terhadap fisik, rasisme hingga SARA dan mirisnya banyak yang menertawakan hal tersebut dengan dalih “bercanda”.

Salah satu yang saya lihat adalah penyerangan terhadap akun BWF  Polemik tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 merembet ke media sosial, dengan netizen Indonesia menyerbu habis-habisan akun BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Kata-kata "BWF unfair", "unfair", dan hinaan lainnya menghujani kolom komentar semua media sosial BWF. Serbuan netizen Indonesia bahkan masih berlangsung meski Neslihan Yigit, pemain tunggal putri yang satu pesawat dengan tim Indonesia dan sempat dibolehkan bermain, akhirnya didepak dari turnamen.


Tak heran Indonesia mendapat julukan “netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara”.  Julukan ini bukan tanpa dasar dan data, berdasarkan laporan Digital Civility Index (DCI) tahun 2020 lalu. Dalam riset yang dirilis oleh Microsoft ini, tingkat kesopanan netizen Indonesia memburuk delapan poin ke angka 76, di mana semakin tinggi angkanya tingkat kesopanan semakin buruk. Survei yang sudah memasuki tahun kelima tersebut mengamati sekitar 16.000 responden di 32 wilayah, yang diselesaikan selama kurun waktu bulan April hingga Mei 2020. Survei tersebut mencakup responden dewasa dan remaja tentang interaksi online mereka dan pengalaman mereka menghadapi risiko online.


Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kesopana  netizen Indonesia. Pertama, urutan tertinggi adalah hoaks dan penipuan yang naik 13 poin ke angka 47 persen. Kemudian faktor ujaran kebencian yang naik 5 poin, menjadi 27 persen. Dan ketiga adalah diskriminasi sebesar 13 persen, yang turun sebanyak 2 poin dibanding tahun lalu. Kemunduran tingkat kesopanan paling banyak didorong pengguna usia dewasa dengan persentase 68 persen. Sementara usia remaja disebut tidak berkontribusi dalam mundurnya tingkat kesopanan digital di Indonesia pada 2020.


Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam salah satu cuitannya di Twitter  juga menyinggung bahwa Indonesia adalah netizen yang sangat tidak sopan. Menurutnya, netizen Indonesia sangat suka julid dan ngerujak.


"Kenapa netizen pada julid suka ngerujak? Ya itulah masalah kita bersama. Bahkan juara terkasar se Asia Pasifik. Tipe begitu ada di kelompok mana-mana. Pemilik akun tidak ada daya mengontrol jempol follower. Yang ada adalah konsisten mengedukasi agar selalu sopan penuh adab," tulis Ridwan Kamil dalam akun Twitternya (5/1/2023).


Penyebab Rendahnya Kesopanan Netizen Indonesia

Namun, apa yang menjadi alasan dibalik ketidaksopana  netizen Indonesia? Mengutip dari wawancara Kompas, Pengamat Psikososial dan Budaya, Endang Mariani mengatakan ada tiga faktor utama, yaitu:
1. Ketidakpastian
Selama pandemi, kita mengalami situasi yang tidak pasti mengenai bagaimana mereka akan hidup, kapan situasi akan berakhir dan lain sebagainya. Situas ini membuat masyarakat mencari informasi dari berbagai sumber. Sehinggs, jiks terjadi kesimpangsiuran dan banjir informasi, mereka akan percaya pada apa yang dinyakini

.
2. Kesulitan Ekonomi
Akibat pandemi masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini yang menjadi penyebab naiknya kasus penipuan. Sebagian masyarakat akan mencari berbagai cara untuk menghasilkan uang, meski harus menipu orang lain.


3. Respon Rasa Frustasi
Pandemi yang banyak merugikan ini membuat masyarakat menjadi sangat frustasi sehingga mereka meluapkan atau mengungkapkan emosi melalui ujaran kebencian. “Harus ada yang disalahkan”. Dan siapa saja bisa menjadi sasaran
Apalagi dalam dunia media sosial kita dapat menyembunyikan identitas diri sehingga akan merasa aman untuk melakukan cyber bullying.


Senada dengan Endang, Assistant Editor Kompas.com, Firzie A. Idris mengemukakan  hal yang sama mengenai penyebab ketidaksopanan netizen Indonesia kondisi ketidakpastian, faktor kesulitan ekonomi dan respon rasa frustasi.


Adapun menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Prof. Dr. Ahmad M. Ramli, laporan ini menjadi cerminan bagi pemerintah untuk mulai menata ekosistem penggunaan internet yang baik dan sehat. Penerapan etika dalam menggunakan internet harus dilakukan oleh setiap pengguna internet di Indonesia. Jika etika dijaga dengan baik, Indonesia akan terlepas dari julukan ini.


Menurutnya, perlu adanya pendampingan. Sebagai negara dengan tarif internet termurah di dunia, pengguna internet di Indonesia juga sangat tinggi. Apalagi didukung dengan jumlah pengguna smartphone sebanyak 167 juta atau 89% dari total penduduk Indonesia.


Jika dilihat berdasarkan usia, rata-rata jumlah pengguna media sosial di Indonesia berkisar diantara usia 25 – 34 tahun. Akan tetapi, pandemi Covid-19 ternyara menyebabkan penurunan batas usia inimal penggunaan media sosial di Indonesia  hingga usia 6 tahun karena adanya sekolah daring.
Ramli berpendapat perlu adanya pendampingan bagi anak usia sekolah saat mengakses internet. Pendampingan orang tua berperan pentng dalam mencegah meningkatnya ketidaksopanan netizen di Indonesia.


Hukum yang Didapat Akibat Ketidaksopanan Dalam Bersosial Media


Menjadi netizen yang berdap akan membuat dunia digital menjadi sehat dan positif serta  dapat menghindari segala kerugian yang akan ditimbulkan. Sebab, komentar buruk yang kita ketikkan akan mendapat ganjaran hukum. Apa saja hukum yang akan didapat?


1. Pasal 156 KUHP hukuman penjara hingga 4 tahun akibat menyatakan kebencian atau merendahkan suku.
2. Pasal 157 KUHP hukuman penjara hingga 2,5 tahun akibat menyatakan kebencian dengan tulisan atau lukisan di muka umum.
3. Pasal 310 KUHP hukuman penjara minimal 9 bulan hingga 1 tahun 4 bulan akibat sengaja menyerang nama baik dengan tuduhan, baik verbal maupun non verbal.
4. Pasal 157 KUHP hukuman penjara hingga 5 tahun akibat sengaja menunjukkan kebencian dengan diskrimanasi ras dan etnis.

Saat ini kita telah memasuki era globalisasi. Teknologi semakin maju, segala hal menjadi serba mudah, begitu pula dengan teknologi komunikasi yang kini semakin mudah dengan maraknya media sosial. Namun, kita harus berhati-hati dalam menggunakannya. Jika tidak, bisa saja kita terjerat salah satu pasal di atas.


Kemudahan yang kini kita rasakan jangan justru membuat kita menjadi manusia jahat. Zaman sekarang, tak hanya mulut yang harus kita jaga, namun juga jari kita. Jari kita bisa saja membuat sakit hati atau bahkan kasus terparah dapat membuat orang tersebut merenggang nyawa akibat sakit hati tersebut. Jadi, bijaklah dalah menggunakan media sosial. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jenis-Jenis Jalan Rusak dan Penyebabnya

 Oleh: Putri Syifa Amelia Jenis-Jenis Jalan Rusak di Indonesia. (Foto: Okezone.com) JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkapkan bahwa kondisi jalanan pasti mengalami kerusakan. Meski jalanan tersebut sudah melalui proses pengerasan dan sebagainya.   Mengutip dari laman Instagram @pupr_binamarga, berikut empat jenis kerusakan jalan dan penyebabnya:   1. Kerusakan Jalan Lubang (Potholes) Kerusakan ini akan membuat jalan berlubang seperti mangkok dan membuat air tergenang. Penyebabnya karena drainase jelek yang menyebabkan pelapukan aspal. Demikian dikutip dari Instagram 2. Kerusakan Jalan Alur (Rutting) Kerusakan ini terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan dan akan membentuk alur. Penyebabnya bisa karena ketebalan lapisan permukaan yang tidak mencukupi untuk menahan beban lalu lintas. 3. Kerusakan Jalan Kegemukan (Bleeding) Kerusakan ini dapat kita ketahui dengan terlihatnya lapisan tipis aspal (tanpa agreg...

Musik dan Pengaruhnya terhadap Mood hingga Kesehatan Mental

Oleh: Putri Syifa Amelia Saudara saya yang sedang mendengarkan musik sepulang kerja. Foto: Putri Syifa Amelia Siapa yang suka mendengarkan musik? Apakah kalian termasuk pecinta musik? Saat ini hampir semua orang suka mendengarkan musik, bahkan seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya yang mengetik ini sembari mendengarkan musik. Namun, tahukah kalian, musik sangat mempengaruhi mood bahkan hingga kesehatan mental kita lho! Kenapa bisa seperti itu ya? Yuk kita bahas. Musik, Mood, dan Kesehatan Mental Ilustrasi mendengarkan musik saat hujan. Foto: goffkein.pro/Shutterstock Sebelumnya mari kita ketahui dulu apa itu musik, mood dan kesehatan mental. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Kata musik sendiri berasal dari bahasa Yunani mousikos yang melambangkan d...

Investor Saham Diminta Waspadai Tahun Politik

 Oleh: Putri Syifa Amelia Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi melemah (Ilustrasi: Okezone) JAKARTA – Investor pasar saham Indonesia diminta waspadai tahun politik. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami penurunan pada masa pemilu 2024.   Namun, Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengatakan, penurunan IHSG tidak akan terlalu dalam. Menurutnya, stabil atau tidaknya pelaksanaan pemilu akan mempengaruhi gerak indeks tahun depan.   Selain itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia juga akan sangat mempengaruhi pergerakan indeks.   “Asalkan kondisi politik itu bisa tetap stabil dan tidak banyak perubahan yang terlalu signifikan, pergerakan IHSG diharapkan walaupun terkoreksi-koreksi, itu tidak akan terlalu dalam,” kata Ike dalam webinar ‘Monthly Market Outlook’, ditulis Kamis (7/12/2023).   Ike menjelaskan bahwa momentum untuk para investor menambah portofolio investasinya adalah saat IHSG mengalami...